![]() |
| Peta Jalur LRT Palembang |
Jelang Asian Games 2018, Palembang akan punya transportasi massal baru yakni light rail transit (LRT) Palembang. Palembang Light Rail Transit atau disingkat Palembang LRT adalah sebuah sistem MassTransit dengan Kereta Api Ringan (LRT) sepanjang 22 kilometer yang sedang dibangun di Palembang, Sumatera Selatan dan menghubungkan Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II dengan Jakabaring Sport Center yang akan menjadi venue Asian Games 2018. Jalur ini juga melintas di atas Sungai Musi dengan bentangan jembatan sepanjang 445 meter bersisian dengan Jembatan Ampera.
Proyek transportasi publik ini dibangun untuk
membantu menyelesaikan masalah kemacetan di Palembang sekaligus
persiapan untuk menyongsong Asian Games 2018 yang akan berlangsung di
Palembang dan Jakarta. Bila proyek ini rampung maka pengoperasiannya akan diserahkan kepada PT Kereta Api Indonesia (Persero) berdasarkan Perpres Nomor 116 Tahun 2015 dan Perpres Nomor 55 Tahun
2016 mulai dari pengadaan, pengusahaan, pengoperasian hingga pemeliharaan
sarana.
Pada awalnya Palembang merencanakan membangun Monorel
dari Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II ke Kompleks Olahraga
Jakabaring sebagai alternatif transportasi umum karena berdasar
penelitian yang ada, kota Palembang akan mengalami macet total pada 2019
mendatang.
![]() |
| Progress pembangunan jalur LRT di Jalan Jendral Sudirman Palembang. Foto: Bakaneko |
Dalam rangka menyambut Asian Games 2018
di Palembang, rencana pembangunan Monorel tersebut kemudian dibatalkan
karena kesulitan mencari investor yang dapat menyelesaikan pekerjaan
tepat waktu serta proyek dianggap kurang menguntungkan. Monorel kemudian
diganti dengan LRT yang dianggap lebih efektif. Proyek senilai 7,2
trilyun rupiah ini diminta dibiayai oleh Pemerintah Pusat melalui APBN dan penugasan konstruksi pada BUMN.
Presiden Joko Widodo kemudian menandatangani Perpres
Nomor 116 Tahun 2015 tentang percepatan penyelenggaraan kereta api
ringan di Sumatera Selatan tanggal 20 Oktober 2015. Menurut Perpres,
pemerintah menugaskan kepada PT Waskita Karya
untuk membangun prasarana LRT meliputi jalur termasuk konstruksi jalur
layang, stasiun dan fasilitas operasi. Pendanaan proyek di 2016 akan
dibiayai PT Waskita Karya. Selanjutnya, pemerintah melalui Kementerian
Perhubungan akan mengalokasikan anggaran pembiayaan proyek tersebut pada
APBN 2017 dan 2018.
Mengenai tarif, LRT nantinya akan mendapatkan subsidi perintis dari pemerintah pusat. Sebab, jika tepat waktu dan sesuai dengan target, LRT di Palembang akan menjadi yang pertama (perintis), sehingga harga tiket akan sangat terjangkau bagi masyarakat.
![]() |
| Proses pembangunan jembatan LRT diatas Sungai Musi. Foto: Bakaneko |
STASIUN LRT
Ada 13 Stasiun pada jalur Palembang LRT ini, yaitu Stasiun Bandara Sultan Mahmud Badarudin (SMB II), Stasiun Asrama Haji, Telkom, RSUD, Polda, Demang Lebar, Palembang Icon, Dishub, Pasar Cinde, Stasiun Terpadu Jembatan Ampera, Stasiun Gubernur Bestari-Polresta, Stasiun Stadion Jakabaring dan Stasiun Ogan Permata Indah (OPI) dan satu dipo berkapasitas 14 train set. Lama berhenti di stasiun satu menit kecuali di Stasiun Bandara SMB II dan Stasiun OPI selama 10 menit. Seluruh stasiun LRT yang dibangun akan diberikan ornamen khas Palembang, serta memiliki corak warna yang berbeda-beda di setiap stasiun. Seperti Stasiun Bandara SMB II akan memakai warna putih, Stasiun Asrama Haji memakai warna pure hijau, Stasiun RSUD Km 7 memakai corak warna putih almunium sesuai warna rumah sakit.
Mega proyek Light Rail Transit (LRT) di Palembang akan diberi sentuhan kearifan lokal pada bagian interior dan eksteriornya. Hal ini dilakukan agar suasana lokal tetap ada pada angkutan massal tersebut. Ada dua stasiun utama yang terintegrasi dengan moda transportasi lain, yaitu Stasiun Sultan Mahmud Badaruddin II yang terintegrasi dengan Bandara dan Stasiun Terpadu Jembatan Ampera yang akan terintegrasi dengan Bus Rapid Transit dan Trans Musi yang telah beroperasi sejak 2010. Kemudian ada Stasiun Stadion Jakabaring yang menjadi venue Asian Games tahun 2018 nantinya.
![]() |
| Pembangunan Stasiun LRT Palembang. Foto: Antara |
Setiap stasiun Light Rail Transit (LRT) di Palembang dibangun 2 lantai. Di lantai pertama untuk
area tiket dan kantor, dan di lantai kedua area naik turun penumpang. Atap stasiun dilapisi dengan alumunium foil dan tambahan seperti busa
yang mampu meredam panas dan mengedapkan suara. Sehingga masyarakat
pengguna LRT tidak akan merasa kepanasan saat menunggu atau turun dari
kereta di stasiun LRT.
Selain itu di stasiun LRT akan ditambah fasilitas pendukung seperti ekskalator serta lift untuk penyandang disabilitas. Selain itu ada stasiun yang menggunakan travelator seperti di stasiun Bandara dan Jakabaring. Pakai ramp dan lift seperti di Stasiun Polda, SMKN 2, Dishub Sumsel, Ampera, Polresta dan OPI Mall. Sedangkan stasiun Pasar Cinde memakai ramp, lift dan eskalator.
Sementara di area bawah sepanjang jalur LRT akan dikembalikan fungsinya seperti taman, pembatas jalan dan lampu. Proyek jalur kereta ringan juga akan dilengkapi lima unit jembatan layang (sky bridge) yang pembangunannya melibatkan pihak swasta/BUMN dan lokasi bangunannya berdekatan dengan stasiun LRT. Lima sky bridge itu berada di stasiun LRT Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, stasiun RSU Provinsi Sumsel, stasiun Palembang Icon Mall, stasiun Pasar Cinde, dan stasiun OPI Mall.
SARANA DAN PRASARANA LRT
PT KAI sebagai operator LRT Palembang nantinya telah memesan 8 set train (rangkaian kereta) ke PT Industri Kereta Api (Persero) di Madiun, Jawa Timur. Masing-masing set train berjumlah 3 gerbong kereta dengan total maksimum penumpang 543 orang. Kontrak pembuatan sarana kereta LRT Palembang sudah dilakukan sejak Desember 2016 oleh PT Inka dengan nilai sekitar Rp 400 miliar.
Sepintas, kereta LRT Palembang hampir mirip dengan KRL Commuter Line. Namun INKA memastikan dari ukuran dan berat berbeda. LRT Palembang lebih kecil dan ringan dengan bahan dasar stainless steel. Secara total, berat kosong masing-masing gerbong kereta hanya 88 ton.
Dikuti dari berbagai sumber.
Selain itu di stasiun LRT akan ditambah fasilitas pendukung seperti ekskalator serta lift untuk penyandang disabilitas. Selain itu ada stasiun yang menggunakan travelator seperti di stasiun Bandara dan Jakabaring. Pakai ramp dan lift seperti di Stasiun Polda, SMKN 2, Dishub Sumsel, Ampera, Polresta dan OPI Mall. Sedangkan stasiun Pasar Cinde memakai ramp, lift dan eskalator.
Sementara di area bawah sepanjang jalur LRT akan dikembalikan fungsinya seperti taman, pembatas jalan dan lampu. Proyek jalur kereta ringan juga akan dilengkapi lima unit jembatan layang (sky bridge) yang pembangunannya melibatkan pihak swasta/BUMN dan lokasi bangunannya berdekatan dengan stasiun LRT. Lima sky bridge itu berada di stasiun LRT Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, stasiun RSU Provinsi Sumsel, stasiun Palembang Icon Mall, stasiun Pasar Cinde, dan stasiun OPI Mall.
SARANA DAN PRASARANA LRT
PT KAI sebagai operator LRT Palembang nantinya telah memesan 8 set train (rangkaian kereta) ke PT Industri Kereta Api (Persero) di Madiun, Jawa Timur. Masing-masing set train berjumlah 3 gerbong kereta dengan total maksimum penumpang 543 orang. Kontrak pembuatan sarana kereta LRT Palembang sudah dilakukan sejak Desember 2016 oleh PT Inka dengan nilai sekitar Rp 400 miliar.
![]() |
| Desain kereta LRT Palembang buatan INKA. Foto: Dok.KAI |
Kereta LRT yang diproduksi INKA memiliki tinggi atap 3.700 mm, tinggi lantai kereta 1.025 mm dengan panjang setiap 1 set train (3 kereta) mencapai 51.800 mm. Sedangkan jarak pusat bogie (gandar) setiap 1 kereta adalah 11.500 mm. Masing-masing kereta memiliki 2 bogie. Untuk spesifikasi kereta sendiri terdiri dari M1-T-M2, yakni motor car (M1) atau kereta dengan roda penggerak dan mempunyai kabin masinis, trailers car (T) atau kereta pengikut, dan M2.
Sepintas, kereta LRT Palembang hampir mirip dengan KRL Commuter Line. Namun INKA memastikan dari ukuran dan berat berbeda. LRT Palembang lebih kecil dan ringan dengan bahan dasar stainless steel. Secara total, berat kosong masing-masing gerbong kereta hanya 88 ton.
![]() |
| Eksterior kereta LRT Palembang. Foto: Dok. KAI |
LRT Palembang juga menggunakan rel dengan lebar 1.067 mm. Lebar rel yang dipakai LRT Palembang sama seperti yang digunakan kereta api jarak jauh dan KRL Commuter Line Jabodetabek namun dengan axle load 12 ton. Kecepatan kereta hingga 100 km per jam namun saat operasional, kecepatan maksimum yang diperbolehkan hanya 85 km per jam.
Konstruksi jalur berupa elevated (slab track). Persinyalan adalah fixed block dengan cap signal (ETCS Level 1). Sistem elektrikall dengan third rail system 750 VDC.
Konstruksi jalur berupa elevated (slab track). Persinyalan adalah fixed block dengan cap signal (ETCS Level 1). Sistem elektrikall dengan third rail system 750 VDC.
Dikuti dari berbagai sumber.
















































