Selasa, 19 September 2017

LRT PALEMBANG, JALUR KERETA RINGAN MODERN PERTAMA DI RANAH SUMATERA

Peta Jalur LRT Palembang
Jelang Asian Games 2018, Palembang akan punya transportasi massal baru yakni light rail transit (LRT) Palembang. Palembang Light Rail Transit atau disingkat Palembang LRT adalah sebuah sistem MassTransit dengan Kereta Api Ringan (LRT) sepanjang 22 kilometer yang sedang dibangun di Palembang, Sumatera Selatan dan menghubungkan Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II dengan  Jakabaring Sport Center yang akan menjadi venue Asian Games 2018. Jalur ini juga melintas di atas Sungai Musi dengan bentangan jembatan sepanjang 445 meter bersisian dengan Jembatan Ampera. 

Proyek transportasi publik ini dibangun untuk membantu menyelesaikan masalah kemacetan di Palembang sekaligus persiapan untuk menyongsong Asian Games 2018 yang akan berlangsung di Palembang dan Jakarta. Bila proyek ini rampung maka pengoperasiannya akan diserahkan kepada PT Kereta Api Indonesia (Persero) berdasarkan Perpres Nomor 116 Tahun 2015 dan Perpres Nomor 55 Tahun 2016 mulai dari pengadaan, pengusahaan, pengoperasian hingga pemeliharaan sarana.

Pada awalnya Palembang merencanakan membangun Monorel dari Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II ke Kompleks Olahraga Jakabaring sebagai alternatif transportasi umum karena berdasar penelitian yang ada, kota Palembang akan mengalami macet total pada 2019 mendatang.
Progress pembangunan jalur LRT di Jalan Jendral Sudirman Palembang. Foto: Bakaneko
Dalam rangka menyambut Asian Games 2018 di Palembang, rencana pembangunan Monorel tersebut kemudian dibatalkan karena kesulitan mencari investor yang dapat menyelesaikan pekerjaan tepat waktu serta proyek dianggap kurang menguntungkan. Monorel kemudian diganti dengan LRT yang dianggap lebih efektif. Proyek senilai 7,2 trilyun rupiah ini diminta dibiayai oleh Pemerintah Pusat melalui APBN dan penugasan konstruksi pada BUMN.

Presiden Joko Widodo kemudian menandatangani Perpres Nomor 116 Tahun 2015 tentang percepatan penyelenggaraan kereta api ringan di Sumatera Selatan tanggal 20 Oktober 2015. Menurut Perpres, pemerintah menugaskan kepada PT Waskita Karya untuk membangun prasarana LRT meliputi jalur termasuk konstruksi jalur layang, stasiun dan fasilitas operasi. Pendanaan proyek di 2016 akan dibiayai PT Waskita Karya. Selanjutnya, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan akan mengalokasikan anggaran pembiayaan proyek tersebut pada APBN 2017 dan 2018.

Mengenai tarif, LRT nantinya akan mendapatkan subsidi perintis dari pemerintah pusat. Sebab, jika tepat waktu dan sesuai dengan target, LRT di Palembang akan menjadi yang pertama (perintis), sehingga harga tiket akan sangat terjangkau bagi masyarakat.
Proses pembangunan jembatan LRT diatas Sungai Musi. Foto: Bakaneko

STASIUN LRT

Ada 13 Stasiun pada jalur Palembang LRT ini, yaitu Stasiun Bandara Sultan Mahmud Badarudin (SMB II), Stasiun Asrama Haji, Telkom, RSUD, Polda, Demang Lebar, Palembang Icon, Dishub, Pasar Cinde, Stasiun Terpadu Jembatan Ampera, Stasiun Gubernur Bestari-Polresta, Stasiun Stadion Jakabaring dan Stasiun Ogan Permata Indah (OPI)  dan satu dipo berkapasitas 14 train set. Lama berhenti di stasiun satu menit kecuali di Stasiun Bandara SMB II dan Stasiun OPI selama 10 menit. Seluruh stasiun LRT yang dibangun akan diberikan ornamen khas Palembang, serta memiliki corak warna yang berbeda-beda di setiap stasiun. Seperti Stasiun Bandara SMB II akan memakai warna putih, Stasiun Asrama Haji memakai warna pure hijau, Stasiun RSUD Km 7 memakai corak warna putih almunium sesuai warna rumah sakit. 

Mega proyek Light Rail Transit (LRT) di Palembang akan diberi sentuhan kearifan lokal pada bagian interior dan eksteriornya. Hal ini dilakukan agar suasana lokal tetap ada pada angkutan massal tersebut. Ada dua stasiun utama yang terintegrasi dengan moda transportasi lain, yaitu Stasiun Sultan Mahmud Badaruddin II yang terintegrasi dengan Bandara dan Stasiun Terpadu Jembatan Ampera yang akan terintegrasi dengan Bus Rapid Transit dan Trans Musi yang telah beroperasi sejak 2010. Kemudian ada Stasiun Stadion Jakabaring yang menjadi venue Asian Games tahun 2018 nantinya.
Pembangunan Stasiun LRT Palembang. Foto: Antara
Setiap stasiun Light Rail Transit (LRT) di Palembang dibangun 2 lantai. Di lantai pertama untuk area tiket dan kantor, dan di lantai kedua area naik turun penumpang. Atap stasiun dilapisi dengan alumunium foil dan tambahan seperti busa yang mampu meredam panas dan mengedapkan suara. Sehingga masyarakat pengguna LRT tidak akan merasa kepanasan saat menunggu atau turun dari kereta di stasiun LRT.

Selain itu di stasiun LRT akan ditambah fasilitas pendukung seperti ekskalator serta lift untuk penyandang disabilitas. Selain itu ada stasiun yang menggunakan travelator seperti di stasiun Bandara dan Jakabaring. Pakai ramp dan lift seperti di Stasiun Polda, SMKN 2, Dishub Sumsel, Ampera, Polresta dan OPI Mall. Sedangkan stasiun Pasar Cinde memakai ramp, lift dan eskalator.
Sementara di area bawah sepanjang jalur LRT akan dikembalikan fungsinya seperti taman, pembatas jalan dan lampu. Proyek jalur kereta ringan juga akan dilengkapi lima unit jembatan layang (sky bridge) yang pembangunannya melibatkan pihak swasta/BUMN dan lokasi bangunannya berdekatan dengan stasiun LRT. Lima sky bridge itu berada di stasiun LRT Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, stasiun RSU Provinsi Sumsel, stasiun Palembang Icon Mall, stasiun Pasar Cinde, dan stasiun OPI Mall.

SARANA DAN PRASARANA LRT

PT KAI sebagai operator LRT Palembang nantinya telah memesan 8 set train (rangkaian kereta) ke PT Industri Kereta Api (Persero) di Madiun, Jawa Timur. Masing-masing set train berjumlah 3 gerbong kereta dengan total maksimum penumpang 543 orang. Kontrak pembuatan sarana kereta LRT Palembang sudah dilakukan sejak Desember 2016 oleh PT Inka dengan nilai sekitar Rp 400 miliar.
Desain kereta LRT Palembang buatan INKA. Foto: Dok.KAI
Kereta LRT yang diproduksi INKA memiliki tinggi atap 3.700 mm, tinggi lantai kereta 1.025 mm dengan panjang setiap 1 set train (3 kereta) mencapai 51.800 mm. Sedangkan jarak pusat bogie (gandar) setiap 1 kereta adalah 11.500 mm. Masing-masing kereta memiliki 2 bogie. Untuk spesifikasi kereta sendiri terdiri dari M1-T-M2, yakni motor car (M1) atau kereta dengan roda penggerak dan mempunyai kabin masinis, trailers car (T) atau kereta pengikut, dan M2.

Sepintas, kereta LRT Palembang hampir mirip dengan KRL Commuter Line. Namun INKA memastikan dari ukuran dan berat berbeda. LRT Palembang lebih kecil dan ringan dengan bahan dasar stainless steel. Secara total, berat kosong masing-masing gerbong kereta hanya 88 ton.
Eksterior kereta LRT Palembang. Foto: Dok. KAI
LRT Palembang juga menggunakan rel dengan lebar 1.067 mm. Lebar rel yang dipakai LRT Palembang sama seperti yang digunakan kereta api jarak jauh dan KRL Commuter Line Jabodetabek namun dengan axle load 12 ton. Kecepatan kereta hingga 100 km per jam namun saat operasional, kecepatan maksimum yang diperbolehkan hanya 85 km per jam. 

Konstruksi jalur berupa elevated (slab track). Persinyalan adalah fixed block dengan cap signal (ETCS Level 1). Sistem elektrikall dengan third rail system 750 VDC. 

Dikuti dari berbagai sumber.

Senin, 18 September 2017

STASIUN PULAU AIR, STASIUN BERSEJARAH DI KOTA PADANG

Emplasemen Stasiun Pulau Aie tahun 1915. Foto: KITLV
Stasiun Pulau Air (PLA) (sebelumnya: Poeloe Ajer) adalah stasiun kereta api non-aktif yang berada di Jalan Pulau Air Kelurahan Palinggam Kecamatan Padang Selatan, kawasan Kota Lama Padang. Stasiun ini merupakan stasiun ujung sebelum jalur menuju pelabuhan Muaro yang percabangannya dari Stasiun Padang. 
Bagian depan bangunan eks Stasiun Pulau Air. Foto: Bayu Haryanto
Dibangun sekitar tahun 1900, untuk kepentingan angkutan penumpang dan barang dari dan ke pelabuhan sehingga merupakan stasiun dan jalur kereta api pertama yang dibangun pemerintah Hindia Belanda di Padang sekaligus di Ranah Minang. Jalur ini adalah bagian dari jalur Padang-Padang Panjang sejauh 71 km yang mulai dibangun sejak 6 Juli 1889.
Peta jalur kereta Padang-pulau Air. Foto: searail.malayanrailways.com
Jalurnya digunakan sebagai sarana angkut batu bara dari Ombilin Kota Sawahlunto menuju pelabuhan Muaro Padang sebelum Pelabuhan Emmahaven (Pelabuhan Teluk Bayur) dibangun serta untuk mengangkut penumpang umum.

Stasiun ini memiliki luas 27,50 x 12 m3 dengan pintu masuk yang berada di tengah bangunan sehingga terlihat seperti dua bagian bangunan. Bangunan ini menggunakan atap seng dengan jendela persegi dan pintu tinggi khas arsitektur bangunan masa kolonial. 
Stasiun Pulau Air saat masih melayani kereta penumpang. Sumber: Twitter @MinangOfficial
Stasiun Pulau Air adalah jalur transportasi perdagangan. Sejak berdirinya stasiun ini hingga awal tahun 1980-an, keberadaan stasiun ini menjadi pilihan utama jalur perdagangan di Sumatera Barat. Pada tahun 1950-an alat transportasi darat yang menghubungkan Kota Padang dengan daerah pedalaman adalah kereta api, selain bendi dan pedati. Kemudian pada tahun 1960-an, stasiun Pulau Air selalu ramai dikunjungi calon penumpang dan aktivitas bongkar muat barang yang akhirnya membuat perekonomian di daerah ini menggeliat. 
Foto lama (1905-1920) Stasiun Pulau Air. Foto: KITLV
Saat itu kereta api dari Stasiun Pulau Air berangkat 4 kali perjalanan. Ada dua jenis kereta api yang ada di stasiun Stasiun Pulau Air, pertama kereta barang, biasa disebut oleh masyarakat setempat dengan kereta gerobak yang memiliki 6 hingga 10 gerbong kereta. 

Kedua kereta penumpang, biasa disebut oleh masyarakat setempat kereta ganevo, dan memiliki 4 hingga 6 gerbong kereta. Kereta api barang biasanya 3 kali pulang pergi dalam sehari, dan kereta api penumpang biasanya 2 kali pulang pergi dalam sehari. lokomotif yang berdinas disini diinapkan di dipo lokomotif dekat Stasiun Pulau Air.
Emplasemen Stasiun Pulau Aie tahun 1935. Foto: KITLV
Bangunan stasiun. Foto: Artalentalle Picture
Bekas bangunan Dipo Lokomotif Pulau Air. Foto: Bayu Haryanto
Sayangnya, Seiring waktu, peran kereta api tergantikan oleh kendaraan bermotor yang dinilai lebih cepat. Keadaan ini diperburuk dengan rusaknya prasarana gerbong kereta faktor usia sehingga mengurangi rasa nyaman penumpang. Dinding dan segala fasilitas gerbong yang tak terawat mengakibatkan, masyarakat beralih menggunakan armada bus dan truk. selain itu, memudarnya peran Pelabuhan Muaro yang tergantikan oleh Pelabuhan Teluk Bayur yang lebih modern mematikan perekonomian disana.

Jejak rel yang tertimbun. Foto: Bayu Haryanto
kondisi rel di emplasemen Stasiun Pulau Air. Foto: Bayu Haryanto
Stasiun Pulau Air telah dihentikan operasinya sejak tahun 1983. Jejak rel masih bisa dilihat di sana. Rel ini bisa berada di dalam rumah atau menjadi bagian teras sebuah rumah. Jejak rel ini juga masih bisa terlihat diantara bangkai bangunan dan tanaman liar. Padahal stasiun ini dahulu mempunyai empat jalur kereta. Sejak tidak beroperasi, kawasan itu kemudian tumbuh menjadi permukiman warga.
Kondisi terkini Stasiun Pulau Air. Foto: Bayu Haryanto



Kondisi bekas peron Stasiun Pulau Air. Foto: Bayu Haryanto
Revitalisasi Stasiun Pulau Air. Foto: M Ikhlas
Kondisi Stasiun Pulau Air, yang merupakan cagar budaya, cukup mengkhawatirkan. Meski masih terlihat kokoh, namun di beberapa titik terlihat retakan yang lumayan dalam di dinding, termasuk  di sambungan tembok. Hampir seluruh material stasiun ini masih asli, termasuk lantainya. Lantainya berbentuk persegi dengan corak totol-totol seperti kulit harimau berwarna kuning. Ada juga tandon penyimpanan air untuk lokomotif uap.
Bentuk ubin bangunan stasiun khas zaman kolonial. Foto: Bayu Haryanto
Menara tangki air untuk lokomotif. Foto: Bayu Haryanto
Menengok lebih ke belakang, ke gedung yang bisa jadi dulu berfungsi sebagai depo, kondisinya sudah lebih parah. Di satu sisi sudah ambruk akibat gempa. Belum lagi retak-retak yang terjadi di sekujur tembok. Sayangnya, gedung itu tak bisa ditilik hingga ke dalam karena sudah ditempati oleh pihak lain sebagai bengkel.

Kondisi emplasemen stasiun. Foto: Bayu Haryanto
Bekas bangunan Stasiun Pulau Air. Foto: M Ikhlas
Mengingat arti pentingnya tempat bersejarah ini, Pemerintah Kota Padang telah menetapkan Stasiun Pulau Air sebagai salah satu cagar budaya dengan nomor inventaris No.69/BCB-TB/A/01/2007. Selain itu, untuk menambah atraksi wisata di Padang, jalur kereta api pertama ini akan kembali dihidupkan untuk kereta wisata. Jalur sepanjang sekitar 2.3 kilo itu menghubungkan Stasiun Padang ke Stasiun Pulau Air di Pasa Gadang yang di masa lalu langsung terhubung ke Pelabuhan Muaro. Jalur ini sengaja akan dihidupkan untuk wisata nostalgia, melihat Padang di masa lalu.
Jalur rel Stasiun Pulau Air. Foto; Artalentalle Picture
Emplasemen Stasiun Pulau Air. Foto: M Ikhlas
Namun gempa yang mengguncang Padang pada 30 September 2009 agaknya mengharuskan PT KAI dan Pemerintah Kota Padang berkonsentrasi pada urusan penanganan pasca gempa. Belum lagi urusan pembenahan jembatan kereta api yang bergeser akibat gempa serta jalur kereta api yang tak lagi lurus, berkelok-kelok bahkan terpisah dari tanah tempat rel bertumpu. Ini terjadi di jalur Padang-Pariaman di km 43 dan jalur Padang-Kayutanam di km 41.

Kini kita berharap agar pemerintah kembali serius menghidupkan jalur ini agar kenang-kenangan kejayaan kereta api di Ranah Minang kembali terwujud kembali di masa kini. Apalagi pernah terbentik rencana bahwa kereta bandara dimuali dari stasiun ini.

Dikutip dari berbagai sumber

Kamis, 14 September 2017

JALUR KA KOMUTER PERKOTAAN PADANG





Mengingat Sumatera Barat yang semakin berkembang berimbas meningkatnya mobilitas warga, baik warga kota maupun wilayah-wilayah penyanggah yang mondar-mandir untuk bekerja atau sekedar tamasya maupun berbelanja menjadi problem baru bagi tata kota di pusat perekonomian Sumbar. Kemacetan terjadi dimana-mana terutama di Kota Padang sebagai ibukota provinsi. Waktu tempuh yang melambat akibat macet menjadi keluhan masyarakat disana.

Beberapa faktor yang menyebabkan kemacetan tersebut antara lain peningkatan jumlah dan kapasitas kendaraan, tidak disiplinnya pengendara, parkir yang tidak beraturan, serta tidak bertambahnya ruas jalan. 



Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan pengoptimalan angkutan massal yang representatif. Solusi angkutan massal ini sebetulnya telah terjawab dengan adanya Kereta Komuter Padang, akan tetapi masih belum cukupnya jumlah armada sarana dan prasarana serta masih terbatasnya rute menjadikan peranannya masih jauh dari harapan masyarakat.



Foto lama KA penumpang saat melintasi PJL Bandara Tabing. Foto: Koleksi KPKD 2 SB
Stasiun Pulau Air Padang saat masih dilayani kereta penumpang. Sumber: Twitter @MinangOfficial


Dahulu, kereta api di Sumatera Barat telah menghubungkan sebagian besar kota seperti Padang, Pariaman, Parit Malintang, Padang Panjang, Bukit Tinggi, Payakumbuh, Solok, Sawahlunto dan Sijunjung. Namun seiring waktu, moda transportasi rel kalah saing dengan transportasi jalan raya yang lebih efisien dan cepat. Tapi saat ini, beban jalan raya sudah tidak mampu melayani tingginya volume kendaraan yang melintas. 


Kereta api melintas di petak Lubuk Alung. Foto: Koleksi KPKD2


Transportasi berbasis rel harus dikembangkan kembali untuk mengakomodir kebutuhan para penglaju di Sumatera Barat. Salah satunya ialah mengaktifkan layanan kereta komuter yang menghubungkan Kota Padang dengan wilayah sekitarnya dan akses ke bandara serta pelabuhan. Pengoperasian KA perintis juga dapat mengakomodir kebutuhan masyarakat Padang dan sekitarnya akan moda transportasi massal yang nyaman, aman, dan bebas macet Apalagi jika keindahan alam Sumatera Barat dapat dilalui jalur kereta api, tentu akan menjadi nilai wisata tersendiri.
Percabangan Jalur Eksisting dengan Jalur KA Bandara di Stasiun Duku. Foto: Artalent Art

Saat ini, Divisi regional 2 Sumatera Barat sudah memiliki dua layanan kereta komuter yang menghubungkan Padang dengan wilayah penyanggah, seperti Kota Pariaman dan Parit Malintang hingga Kayu Tanam.

Lintas Padang - Pariaman 



Kereta komuter melintasi rel yang bersisian dengan jalan raya Padang-Bukit Tinggi. Foto: Maulana Nur Achsani

Dua rangkaian KA Sibinuang stabling di Stasiun Padang. Foto: Maulana Nur Achsani


Banyak angkutan umum yang bisa digunakan untuk tujuan Padang – Pariaman ataupun sebaliknya. Namun ada transportasi alternatif yang lebih murah dan nyaman yang menghubungkan Pariaman dan Kota Padang, yaitu KA Komuter Ekonomi AC Sibinuang (KA B1-B8) dan KA Wisata Dang Tuangku khusus hari Sabtu dan Minggu. rangkaian ini ditarik oleh lokomotif BB 303 dan BB 306. Penamaan kereta seperti Sibinuang yang merupakan nama seekor kerbau sakti dan Dang Tuangku adalah raja Minangkabau yang seluruhnya diambil dari cerita rakyat Minang.

Gerbang masuk Pantai Gandoriah dekat Stasiun Pariaman. Foto: Antara Sumbar

Jalur kereta api dari Lubuk Alung ke Pariaman selesai dibangun pada tahun 1908, kemudian dilanjutkan jalur Pariaman – Naras selesai pada bulan Januari 1911 dan terakhir jalur Naras – Sungai Limau pada tahun 1917.
Lok uap (steam locomotive) bersama rangkaian campuran melintas langsung di Lintas Lubuk Alung - Pariaman. Sumber: IRPS

Semenjak diaktifkan kembali, sekarang kereta api jalur Padang – Padang Pariaman yang menghubungkan dua kota sejauh 54 km menjadi idola masyarakat. Terbukti dengan makin ramainya pengguna jasa transportasi ini mulai dari kalangan mahasiswa, PNS, karyawan maupun masyarakat umum di kedua kota. Apalagi ditunjang dengan pengelolaan kereta api yang membaik, gerbong yang makin nyaman, toilet yang bersih serta berbagai pembenahan di semua stasiun. 

Bahkan untuk mempermudah akses penumpang dan besarnya animo warga menggunakan jasa angkutan kereta api, manajemen PT KAI Divre 2 Sumbar, menambah titik pemberangkatan (shelter) penumpang sebanyak tiga unit lagi di Kota Padang,yaitu di Pasar Alai (belakang Koperasi Minang Alam Sentosa Swamitra USP), Air Tawar (pintu masuk parkir Basko Grand Mall) dan Pasar Lubukbuaya (depan pasar). Sementara, Stasiun Padang dan Tabing, masih seperti sebelumnya.

KA Sibinuang di Stasiun Padang. Foto:Artalente Art
Penumpang sedang menunggu KA Sibinuang di peron Halte Air Tawar. Foto:Syridwan

KA Sibinuang masuk Halte Air Tawar. Foto: Koleksi KPKD2SB
KA Sibinuang melintasi PJL Lubuk Buaya. Foto: Maulana Nur Achsani


Sementara, di luar Kota Padang, tak ada penambahan shelter. Masih stasiun lama yaitu Stasiun Duku, Lubukalung, Pauh Kambar, Kurai Taji dan Kota Pariaman. Karena jadwal keberangkatan bertambah, persilangan kereta ini nantinya akan terjadi di Stasiun Duku.

Selain makin nyaman, untuk jalur Padang – Pariaman, transportasi kereta api jauh lebih irit daripada moda angkutan lainnya. Dengan Bus misalnya, untuk sekali jalan tarifnya sebesar Rp. 10.000, atau dengan Travel Minibus sebesar Rp 15.000. Bandingkan dengan kereta api yang hanya Rp. 4.000 saja. Harga tiket yang murah ini sangat membantu bagi mahasiswa, karena cukup menghemat pengeluaran. Terutama bagi mahasiswa yang berasal dari wilayah Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman.

Dari Stasiun Padang yang terletak di Jln. Stasiun 7 Simpang Haru Kota Padang, jadwal keberangkatan kereta mulai pukul 06.00 WIB, 09.10 WIB, 14.00 WIB dan 16.40 WIB. Sedangkan keberangkatan dari stasiun Kota Pariaman yang berada Jl. Tugu Perjuangan 45 Pasir Pariaman, mulai pukul 05.45 WIB, 08.50 WIB, 14.15 WIB dan 16.20 WIB. Lama perjalanan dari Padang menuju Kota Pariaman ini sekitar 1 jam 15 menit. Khusus untuk tiga shelter di Kota Padang, kereta tidak berhenti lama, sekitar 2-3 menit saja. Jarak tempuh antar shelter dari Stasiun Simpang Haru, Shelter Pasar Alai, Shelter Air Tawar serta Stasiun Tabing dan Shelter Lubukbuaya, sekitar 2-3 menit pula.

Tidak hanya untuk mahasiswa, bepergian wisata ke Pariaman tentu menjadi lebih murah, mudah dan nyaman bagi para wisatawan, dan tentunya akan berefek pada meningkatnya  kunjungan wisata ke Pariaman.
   
Lintas Lubuk Alung - Kayu Tanam 

Railbus Lembah Anai
Stasiun Kayu Tanam




Sejak 1 November 2016, jalur ini kembali dilintasi kereta perintis milik Kemenhub yang sebelumnya sempat nonaktif karena sarana dan prasarana yang rusak akibat gempa. Jalur kereta Lubuk Alung - Kayutanam menghubungkan tiga stasiun, Lubuk Alung, Sicincin dan Kayutanam. dahulu, jalur ini terdapat Stasiun Parit Malintang yang kini non aktif. 


Stasiun Parit Malintang era Westkust Sumatra Staats Spoorwegen (WSS)
KA perintis yang lalu lalang di lintas ini adalah KA Lembah Anai yang diambil dari salah satu lembah yang legendaris dan indah di mana jalur kereta api bergerigi Padang Panjang-Sawahlunto membentang. Dalam sekali perjalanannya KA ini mampu mengangkut 160 penumpang (78 orang dengan tempat duduk dan 82 orang tanpa tempat duduk) dengan waktu tempuh 38 menit untuk jarak tempuh 20 km.

Ruang Masinis Railbus Lembah Anai. Foto: Anggi AL


Rangkaian yang digunakan untuk KA Perintis Lembah Anai ini adalah satu set Railbus yang terdiri atas 3 kereta dengan nomor seri K3 2 11 01, K3 2 11 02, dan K3 2 11 03 yang biasa dipanggil dengan sebutan "Mak Buih" oleh para penggemar kereta api di Divre 2. Railbus ini sebelumnya direncanakan akan dioperasikan untuk melayani rute Padang – BIM. Namun, karena keputusan baru Menhub maka Railbus tersebut digunakan sebagai KA untuk rute Lubuk Alung – Kayu Tanam.


Railbus Lembah Anai. Foto: Anggi AL


Beroperasinya Kereta Api Lembah Anai sebelumnya sudah melalui serangkaian uji operasional kelaikan jalan pada lintas Lubukalung-Kayutanam oleh PT KAI Divre II Sumbar. Tercatat sebelum beroperasi dilakukan dua kali uji coba yaitu pada Bulan Juli dan Agustus 2016. Meskipun dinamakan Kereta Api Lembah Anai, namun secara rute kereta api ini hanya melayani rute dari Lubuk Alung ke Kayu Tanam. Sedangkan untuk ke Lembah Anai belum beroperasi karena jalur tesebut membutuhkan lokomotif bergigi yang sampai saat ini belum tersedia.
 
Dilansir dari rilis Instagram Komunitas Pecinta Kereta Api Divre 2 Sumatera Barat (KPKD2SB), ada total 4 pemberangkatan KA Lembah Anai yang berhenti di setiap stasiun, Kayutanam, Sicincin dan Lubuk Alung, 2 kali dari Lubuk Alung (pukul 07.05 WIB dan 15.15 WIB), dan 2 kali dari Kayutanam (5.50 WIB dan 13.50 WIB)). Harga tiket kereta perintis ini dipatok Rp 3000 untuk sekali jalan, baik dari Lubuk Alung maupun Kayutanam.

Dilansir dari rilis Instagram Komunitas Pecinta Kereta Api Divre 2 Sumatera Barat (KPKD2SB), ada total 4 pemberangkatan KA Lembah Anai yang berhenti di setiap stasiun, Kayutanam, Sicincin dan Lubuk Alung, 2 kali dari Lubuk Alung (pukul 07.05 WIB dan 15.15 WIB), dan 2 kali dari Kayutanam (5.50 WIB dan 13.50 WIB)). Harga tiket kereta perintis ini dipatok Rp 3000 untuk sekali jalan, baik dari Lubuk Alung maupun Kayutanam.
Railbus Lembah Anai melintasi persawahan




#sejarahkeretasumbar #komuterpadang #KASibinuang #Railbus #KALembahAnai #Divre2 #KAI #keretaapiindonesia #Sumaterarailways #WestSumateraRailway