Rabu, 13 Januari 2016

JALUR KERETA PERKOTAAN MEDAN DARI ERA DELI SPOORWEG HINGGA KINI


Jalur Perkotaan Medan Era Deli Spoorweg tahun 1893. Foto: Leiden Univ. Map

Medan adalah kota Megapolitan terbesar nomor tiga setelah Jakarta dan Surabaya. Disaat kedua kota tersebut sudah dilengkapi jalur kereta komuter bagi para penglaju dan pekerja dari sekitar wilayahnya, Medan masih saja berkutat oleh kemacetan dengan segudang permasalahannya. Padahal sejak era Pemerintahan Hindia Belanda, jalur kereta api telah terhubung menjangkau seluruh sudut kota Medan.  
Jalur perkotaan pertama yang dibuat Maskapai Perkeretaapian Deli (DSM) adalah jalur Medan - Labuhan. Karena pada saat itu, Labuhan masih menjadi pusat pemerintahan Sultan Deli. Karena Kesultanan Deli melarang warga melayu menjadi buruh kasar, banyak kuli-kuli Cina yang didatangkan dari negaranya dan diperkerjakan untuk membangun landasan rel-rel kereta api ini.

  Jembatan Rel Sungai Deli di Labuan, Medan. Foto: koleksi Troppen Musseum

Jalur ini dibuat dalam perencanaan awal adalah untuk mempermudah dan mempercepat perpindahan kota. Dengan dikeluarkannya surat  no.17 tanggal 23 Januari 1886 pembangunan jalur Medan - Labuhan sejauh 16,743 Km segera terealisasi. Pada awalnya terdapat 3 buah Lokomotif B 2t 1067 "Sumatra" yang dibuat oleh perusahaan Belanda Hohenzollern untuk kebutuhan sarana Deli Spoorweg Mij.

Stasiun Medan. foto: KITLV
Emplasemen Stasiun Medan

Selanjutnya pembangunan jaringan rel kereta api berlanjut ke seluruh penjuru Medan dan wilayah penyangganya. Stasiun Medan menjadi stasiun interkoneksi dengan jalur yang ada di Barat, timur, utara dan selatan Medan. 
Stasiun Timbang Langkat (Binjai) di jalur kereta Medan-Binjai-Kwala
Di sebelah barat terdapat jalur menuju Kota Binjai  yang kemudian bercabang kearah Kuala dan Besitang. 
Kereta Campuran di Stasiun Kuala, langkat
 
Pelabuhan Belawan
Disebelah Utara terdapat jalur menuju ke Pelabuhan Belawan, kemudian kearah selatan terdapat jalur yang memotong antara kompleks Istana Maimun dan Masjid raya Medan dengan persimpangan di Kampung Baru menuju Delitua dan Pancurbatu. 
Kereta melintas di depan Masjid Raya Medan
Stasiun Arnhemia (Pancur Batu)
Disebelah timur terdapat jalur menuju ke wilayah pesisir Sumatera Utara. 
Jaringan rel kereta konvensional di timur Medan yang terintegrasi dengan jaringan rel perkebunan
Selain itu terdapat banyak sekali lintas cabang menjangkau area Medan seperti di Diski menuju wilayah Tuntungan, Titipapan  menuju perkebunan tembakau sekitar Percut, jalur percabangan menuju Kebon Dadap, percabangan menuju Tanjung Mulia, serta lintas cabang Batangkuis menuju perkebunan Tanjung Morawa di selatan dan Pematang Durian di utara. Di kota Lubuk Pakam, timur kota Medan juga pernah ada jalur percabangan menuju Bangunpurba. Kini seluruh jalur cabang tersebut telah di non aktifkan bahkan hilang tanpa jejak.
Jalur kereta rel sempit perkebunan di Sampali, Medan
Rel sempit di perkebunan sawit sekitar Batangkuwis, Deli Serdang
KRDI Srilelawangsa relasi Medan-Binjai. Foto: Maulana Nur Achsani
Pada masa PJKA-Perumka, Lintas perkotaan Medan pernah memperoleh alokasi unit MCW 302 kelas ekonomi dari Jawa yang dioperasikan sebagai KRD Sri Langkat, akan tetapi karena perawatan yang kurang baik serta terjadi pemforsiran unit yang menyebabkan kerusakan sistem traksi penggerak, maka KRD-KRD tersebut saat ini telah diubah menjadi kereta penumpang biasa, kereta bagasi dan kereta pembangkit listrik yang kesemuanya ditarik lokomotif. KMP KA Sribilah juga menggunakan eks KRD MCW 302.

Divre 1 sempat memiliki 2 set rangkaian KRD MCW 302. Rangkaian pertama datang sekitar tahun 1985 dan set kedua tahun 2005 yang seluruhnya melayani koridor Binjai-Medan-Perbaungan. Namun karena KRD hibah dari jawa ini sering mengalami gangguan dan merugi, PT KAI menghentikan layanan ini.


Pada 16 Februari 2010, Wakil Menteri Perhubungan meresmikan kereta komuter KRDI Srilelawangsa yang menjangkau wilayah sekitar Medan. awalnya alokasi KRDI untuk Divre I hanya 1 unit, namun berhubungan terjadinya gempa besar yang mengguncang Padang dan menghancurkan sarana perkeretaapian Divre II sehingga dialihkan untuk menunjang armada komuter perkotaan Medan. Namun baru pada tanggal 6 Maret, Medan benar-benar dilayani dua unit kereta diesel buatan INKA tersebut dengan relasi Medan-Binjai, Medan-Belawan dan Medan-Tebing Tinggi. 

Sayangnya untuk jalur Medan-Belawan hanya mampu bertahan tiga bulan saja karena okupansi nya yang sedikit, kalah bersaing dengan moda transportasi darat seperti angkutan umum yang lebih menjangkau ke sudut-sudut wilayah. Hal ini wajar, mengingat kereta komuter ini hanya melayani naik turun penumpang di stasiun-stasiun tertentu saja. Begitupula dengan layanan komuter menuju Tebing Tinggi yang kini telah dihentikan operasionalnya. Praktis kini hanya komuter Medan-Binjai saja yang dilayani KRDI Srilelawangsa.
KRDI semasa masih melayani komuter Medan-Belawan. Foto: Koleksi DR1RF

KA Bandara buatan Woojin Ind. Korea. Foto: Maulana Nur Achsani
Stasiun KA Bandara ARS Kualanamu
Tapi warga medan dapat berbangga hati dengan hadirnya layanan kereta khusus bandara pertama kali di Indonesia yang melayani penumpang dari Stasiun Besar Medan menuju bandara Kualanamu di Deliserdang. Medan menjadi kota satu-satunya di Indonesia yang terkoneksi dengan bandara dan pelabuhan seperti layaknya kota-kota di Negara maju.
Namun, kepadatan jalur kereta api yang membagi empat wilayah kota Medan membuat terjadinya penumpukan kendaraan di sepanjang pintu perlintasan sebidang. Terlebih lagi dengan meningkatnya lalu lalang kereta bandara setiap 30 menit dianggap menambah macet kota Medan. Oleh karena itu, Pemerintah Pusat berencana membangun jalur layang dimulai dari Pulobrayan melewati Stasiun Medan lalu menurun dibawah jalur tol Medan-Belawan dekat Perumnas Mandala. Selain itu juga, jalur Medan-Kualanamu akan dibuat double track dan dalam jangka panjangnya seluruh jalur tersebut telah di elektrifikasi.

Semoga Perencanaan yang menggembirakan ini benar-benar segera terwujud untuk mengurai kepadatan lalulintas di jalan raya yang sedemikian padat.

-Dikutip dari berbagai sumber-

 Peta Komuter Perkotaan Lintas MEBIDANG (Medan, Binjai dan Deli Serdang). Gambar: Putra

4 komentar:

  1. great...notes of history

    BalasHapus
  2. Mantap! Saya berencana untuk membuat peta komuter di Medan sekitarnya, semoga jadi :)

    BalasHapus
  3. samuel Tambunan@Railfans jugak yah kamu?

    BalasHapus
  4. Bagai model percabangan yang ke kuala di stasiun binjai,apakah dari stasiun binjai langsung lurus ke barat atau berbelok ke utara dulu mengikuti jalur yang ada hingga sekarang

    BalasHapus