Kamis, 14 Januari 2016

STASIUN KOTABARU (DIVRE II), STASIUN TERTINGGI DI PULAU SUMATERA




Bangunan Stasiun Kotobaru. Foto: Maulana Nur Achsani


Stasiun Koto Baru merupakan stasiun tertinggi di Divisi Regional II Sumatera Barat bahkan tertinggi dari seluruh stasiun yang ada di Pulau Sumatera. Stasiun Kotobaru yang terletak di ruas antara Padang Panjang-Bukittinggi berada dengan  ketinggian 1.154 meter di atas permukaan laut 

Stasiun ini dibangun seiring dibukanya jalur kereta dari Padang Panjang menuju Bukittinggi sepanjang 19 km pada 1 November 1891. Sebagian jalur KA Padang Panjang-Bukittinggi menggunakan sistem rel bergerigi karena kontur topografi dataran tinggi. jalur gerigi ini dimulai sejak di Kayutanam kemudian bercabang dua di Padang Panjang. Nah untuk lintas menuju Bukittinggi, di Kotobaru lah jalur bergerigi melalui titik tertingginya. 

Setiap lokomotif yang melewati jalur bergerigi mananjak, maka posisi lokomotif tersebut ditempatkan dibelakang gerbong. jadi, lokomotif tidak menarik rangkaian lagi, namun mendorong rangkaian agar kuat menanjak. Saat lokomotif E10 yang khusus untuk jalur bergerigi di Ranah Minang bergerak menanjak menuju Bukittinggi dari Padang Panjang. Posisi awal lokomotif berada di belakang rangkaian. Ketika rangkaian kereta ini tiba di Kotobaru, masinis lokomotif melepaskan rangkaian ini untuk selanjutnya berbalik arah dan mengambil posisi di depan gerbong dengan ruang masinis berada di depan untuk menarik rangkaian tersebut di jalur menurun Kotobaru-Bukittinggi. Hal yang sama pula untuk rangkaian dari arah Bukittinggi. Itu sebabnya Stasiun Kotobaru menjadi lokasi tempat pertukaran posisi lokomotif di Lintas Padang Panjang.

Untuk melakukan pertukaran lokomotif beserta arahnya, Stasiun Kotobaru dilengkapi turn table yang dapat memutar arah lokomotif secara manual. Proses pemutaran arah lokomotif tersebut selalu jadi tontonan yang menarik buat anak-anak sekitar lokasi stasiun saat itu.

Turn Table di Kotobaru. Foto: w. + h. brutzer


Sayang, bangunan Stasiun Kotobaru kini sudah sulit ditemukan. Lokasi di sekitar stasiun, jika merujuk peta tua peninggalan Belanda, berarti telah berubah menjadi deretan warung dan rumah penduduk, berseberangan dengan pasar. Ada bangunan yang dibiarkan kosong, tetapi tidak ada lagi petunjuk stasiun kecuali tulisan Kotobaru dengan keterangan ketinggiannya. begitu pula emplasemen dan relnya yang hampir tak berbekas.

-Dikutip dari berbagai sumber- 

Kunjungi fanpage Komunitas Pecinta Kereta Api Divisi Regional II Sumatera Barat ---
Komunitas Pecinta Kereta Api Divre II Sumbar  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar